Senin, 08 Oktober 2018

Islam Nusantara Ditolak? Tak Masalah

 


Guru Besar Pemikiran Islam Modern IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Palu, Sulawesi Tengah, Profesor Zainal Abidin mengemukakan,  Islam Nusantara hanyalah suatu istilah yang tidak mengurangi substansi agama Islam. Menurut Zainal, Islam Nusantara juga bukan hal yang baru dalam Islam atau aliran dan paham yang datang belakangan di Indonesia.

"Tidak ada masalah apabila ada yang menolak Islam Nusantara. Islam Nusantara itu hanyalah istilah atau penamaan atas Islam di Indonesia," ujar Zainal di Palu, terkait adanya penolakan terhadap Islam Nusantara, Kamis, 26 Juli 208. Penjelasan ini menanggapi keputusan MUI Sumatera Barat yang menolak Islam Nusantara.

Zainal, yang juga Rois Syuriah Nahdlatul Ulama Sulawesi Tengah, menilai Islam Nusantara dapat dikatakan sebagai metode dakwah. Di mana, pembawa ajaran Islam ke Indonesia menggunakan pendekatan tradisi dan budaya di nusantara.

"Islam Nusantara adalah manhaj atau jalan pikiran para pembawa agama Islam di Indonesia, Islam Nusantara itu adalah metode dakwah," kata rektor pertama IAIN Palu tersebut. Karena itu, dia meminta, istilah Islam Nusantara tidak perlu diperdebatkan atau diperselisihkan. "Tidak berperanguh terhadap substansi dalam anjuran-anjuran Islam."

Zainal melanjutkan, Islam Nusantara tidak bertabrakan dengan Al Quran dan Hadits, bahkan bisa menjadi metode untuk menumbuhkan toleransi antarumat umat beragama, antarsuku dan budaya. Konsepsi Islam Nusantara, kata dia, yaitu Islam yang sejalan dengan tradisi yang dianut oleh masyarakat di nusantara atau Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Islam Nusantara, menurut Zainal, memiliki pendekatan yang berbeda dengan Islam yang ada di luar negeri. Mengapa muncul perbedaan?, kata Zainal, hal itu karena berbeda tradisi dan khasanah budaya setiap negara.

"Islam menjunjung tinggi budaya dan tradisi yang dianut oleh masyarakat selama tradisi dan budaya itu tidak bertabrakan dengan Al Quran dan Hadits," kata Dewan Pakar Pengurus Besar Alkhairaat ini.

Zainal lantas mencontohkan kebiasaan umat Islam di Indonesia mengdakan halal bihalal pada setiap perayaan Idul Fitri. Ada juga Maulid Nabi, yang merupakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. "Tradisi ini hanya ada di Indonesia, tidak ada di negara lain," ujar Ketua MUI Palu tersebut. Intinya Islam Nusantara tidak mempengaruhi atau mengurangi substansi agama Islam.

tempo.co

Tidak ada komentar:
Write komentar